Situs Wapres RI
Situs Wapres RI
32.ruangmedia-pidato.png, 9,2kB

Sambutan Wakil Presiden RI pada Acara Peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW

Istana Wakil Presiden Jakarta, 5 Sya’ban 1433 H / 25 Juni 2012 M

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Segala puji bagi Allah SWT yang senantiasa memberikan karunia, taufiq hidayah serta keberkahan-Nya sehingga kita dapat berkumpul di sini dalam   rangka Peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW Tahun 1433 Hijriah atau 2012 Masehi.

Shalawat  dan salam marilah kita ucapkan kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW beserta keluarga,para sahabat, serta para pengikut beliau. Kita semua menyampaikan terimakasih kepada  Prof. Dr. Umar Jenie atas ceramah beliau mengenai makna dari peristiwa Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Suatu pencerahan bagi kita semua dari seorang pakar ilmu pengetahuan terkemuka kita.

Saudara-saudara,

Al-Isra wa al-Mi’raj merupakan satu peristiwa penting dalam kehidupan Rasulullah yang mengandung banyak hikmah bagi kita para pengikutnya, terutama sebagai ujian dalam menentukan sikap kita yang pas antara keimanan dan penggunaan rasio kita dalam memahami peristiwa agama.

Dalam agama memang ada hal-hal yang harus diterima  melalui iman tanpa mempertanyakan lebih lanjut berdasarkan penalaran akal dan logika.    Agama dimulai dari penerimaan dalam hati yang disebut keimanan dan selanjutnya dibuktikan dengan tindakan nyata dalam bentuk ibadah dan amal soleh.  

Allah memberikan karunia akal untuk memahami kesemestaan ini dan memberi pujian terhadap orang-orang yang mau menggunakan akalnya. Namun demikian, harus disadari bahwa akal manusia memiliki keterbatasan, terutama dalam memahami persoalan-persoalan yang ada dalam ranah ilahiah.  

Nabi meminta kita untuk berpikir mengenai ciptaan Allah dan jangan berpikir mengenai Dzat Allah, karena jika berpikir akan Dzat Allah kita akan menjadi tersesatkan.

Peristiwa Isra Mi’raj mengingatkan kita kapan saatnya kita menggunakan akal dan logika dalam memahami agama dan kapan saatnya kita lebih banyak menggunakan hati kita untuk menerima kebenaran terhadap apa yang dibawa oleh Rasulullah secara imani.   

Meski manusia berusaha memahaminya dengan penalaran namun harus diingat akan keterbatasan yang dimiliki manusia dalam memahami peristiwa keagamaan seperti ini.  Dengan kata lain Isra Mi’raj membuktikan bahwa ‘ilm (pengetahuan) dan qudrat Tuhan meliputi dan menjangkau, bahkan mengatasi segala yang terbatas dan tidak terbatas   tanpa memiliki batas ruang dan waktu.

Saudara-saudara,

Ada makna substansial dari peristiwa Isra Mi’raj untuk kondisi kita sekarang ini, yakni penyadaran terhadap adanya satu kekuatan yang bersifat suprarasional (sesuatu yang tidak mampu terjangkau oleh akal manusia).   

Peristiwa Isra Mi’raj memberikan hikmah kepada kita agar semakin meningkatkan keimanan kepada kemaha-kuasaan Allah atas segala yang ada. Kesadaran inilah yang dapat membimbing kita dalam kehidupan ini  sehingga kita tidak kehilangan arah dan kehilangan kendali.  Kita manusia terlalu mudah kehilangan kendali dalam hidup kita karena kesombongan dan ego kita. Kendali kehidupan itu hilang apabila kita merasa bahwa diri ini adalah segalanya, apabila kita sadar atau tidak sadar cenderung membanggakan diri sendiri dan melupakan Sang Pencipta.    

Sebenarnyalah prestasi dan keberhasilan yang kita capai dalam hidup ini hanyalah atas perkenan dan ridho Allah semata. Oleh karena itu nikmat, kekayaan, kewenangan dan kekuasaan yang mengikuti suatu keberhasilan membawa serta tanggungjawab yang sama besarnya, membawa serta amanah yang harus kita tunaikan sebaik-baiknya untuk kemaslahatan umat manusia.   Tidak ada yang kuat dan berkuasa dalam kehidupan ini selain Allah.   Tidak ada yang kaya di dunia ini, yang maha kaya adalah Allah.

Ada hikmah besar lain dari Mi'raj Nabi.   Sebagaimana Nabi Adam yang diturunkan Tuhan ke bumi, Nabi Muhammad SAW yang sempat melihat surga dalam Mi'raj-nya akhirnya juga dikembalikan ke bumi oleh Allah.  

Menurut  sebagian ulama, tujuan Tuhan menurunkan Adam dan mengembalikan Muhammad ke bumi adalah untuk menugaskannya sebagai khalifah Allah di bumi dan mencontoh kehidupan surgawi yang pernah dilihatnya serta berupaya mewujudkannya di bumi sebagai kehidupan yang bebas dari kelaparan, bebas dari ketakutan, bebas dari kemiskinan, bebas dari kekotoran, dan bebas dari segala beban yang memberatkan manusia.

Saudara-saudara sekalian,

Pada kesempatan ini saya ingin mengajak kita untuk membuka kembali sebuah catatan kecil sejarah. Menurut catatan saya, peringatan nasional Isra Mi’raj yang pertama kali di Republik ini dilaksanakan di Alun-alun Yogjakarta pada tanggal 27 Juni 1946.   Di situ Wakil Presiden Muhamad Hatta menyampaikan amanat peringatan Isra Mi’raj beliau. Pada waktu itu, Republik Proklamasi kita belum berumur setahun dan sedang mengalami ancaman yang maha berat terhadap eksistensinya.   Dari luar, ada tekanan keras oleh pihak Belanda yang berusaha untuk kembali menguasai bekas tanah jajahannya.   

Dari dalam negeri sendiri juga ada ancaman, yaitu ancaman perpecahan, ketika elemen-elemen bangsa kita belum sepenuhnya kompak dan belum dapat menyatukan pandangannya mengenai bagaimana menghadapi ancaman dari luar itu.

Namun berkat rahmat Allah, Republik kita selamat. Berkat petunjuk Allah, para pemimpin kita dengan keragaman latar belakangnya, pada waktu  itu dapat saling membuka hati dan kemudian memadukan langkah untuk menghadapi bersama tantangan besar yang dihadapi bangsa.   Sungguh benar bahwa Republik kita ini adalah karunia dan rahmat Allah.   

Oleh karena itu, sudah selayaknya kita yang mewarisi Republik ini, selalu bersyukur kepada Allah SWT  atas karuniaNya itu.   Rasa syukur itu kita tunjukkan terutama dengan merawat karunia itu sebaik-baiknya dan bersama-sama.

Allah SWT berjanji akan melebihkan nikmatnya bagi yang banyak bersyukur dan murka kepada mereka yang selalu ingkar akan nikmat yang diterimanya.

Saudara-saudara,

Dalam suatu kesempatan lain belum lama ini, saya menggambarkan keadaan dunia saat ini yang diwarnai oleh konflik, kekerasan, pertumpahan darah dan juga bencana yang terjadi di berbagai negara. Dalam situasi seperti itu saya mengajak kita semua untuk banyak mensyukuri dan pandai-pandai memelihara semua yang  sudah kita capai sejauh ini. Tentu, dengan terus dan tidak berhenti berupaya mengatasi berbagai kekurangan dan tantangan  yang masih dihadapi bangsa kita.   

Negara kita yang terhampar luas dengan ribuan pulau dan berpenduduk keempat terbesar di dunia ini adalah negara besar.  Oleh karena itu tidak perlu heran dan tidak perlu kecil hati apabila tantangan-tantangan yang harus kita hadapi juga besar.   Bangsa yang besar juga mempunyai kemampuan yang besar pula untuk mengatasi tantangan.   

Kuncinya adalah bagaimana kita menyatukan energi kita, seperti catatan kecil sejarah tadi mengingatkan kita, yaitu melalui semangat kebersamaan, kesetiakawanan dan persatuan yang tulus diantara kita serta keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT. Dengan sikap dasar itu insya Allah tidak ada aral melintang yang tidak bisa kita atasi. Semoga peringatan Isra Mi’raj ini membuka dan memadukan hati kita semua untuk kemajuan bangsa.   

Saudara-saudara kaum Muslimin dan para hadirin yang dirahmati Allah,

Demikian beberapa hal yang dapat saya  sampaikan.   Dan mengakhiri sambutan saya, menjelang bulan suci Ramadhan ini, saya mengajak kita semua untuk makin mendekatkan diri kepada Allah SWT, dan selalu memohon kepadaNya agar perjalanan bangsa kita ke depan selalu memperoleh bimbingan, perlindungan dan ridhoNya.
 
Terima kasih,
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Wakil Presiden Republik Indonesia
Boediono




Bookmark and Share