Situs Wapres RI
Situs Wapres RI
10.beritawapres.png, 9,2kB

Budaya Dayak, Setitik Zamrud di Khatulistiwa

Pembukaan Pekan Budaya Dayak 2013

Foto

Atraksi pada tarian pembukaan pekan Dayak 2013. (Foto : Jeri Wongiyanto)

Jakarta. Kunci dari keberlanjutan bangsa Indonesia adalah generasi muda yang saling dapat memahami, saling menerima dan saling menghargai keberagaman budaya.  Untaian zamrud khatulistiwa akan kokoh dan solid, apabila masing-masing perniknya menjangkau, merangkul dan menghargai pernik yang lain.

Hal ini disampaikan Wakil Presiden (Wapres) Boediono saat membuka Pekan Budaya Dayak 2013 di Istora Gelora Bung Karno Senayan, Jakarta, 27 April 2013. Hadir dalam pembukaan yang meriah ini Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan, Menteri Riset dan Teknologi Gusti Muhammad Hatta dan Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sapta Nirwandar.  

Turut hadir lima pimpinan daerah se-Kalimantan, yakni Gubernur KalimantanTengah Agustinus Teras Narang yang juga Presiden Majelis Adat Dayak Nasional, Gubernur Kalimantan Barat Cornelis, Gubernur Kalimantan Timur Awan Faroek Ishak, Gubernur Kalimantan Selatan dan Irianto Lambrie yang baru pekan ini ditunjuk sebagai pelaksana tugas Gubernur Kalimantan Utara, provinsi ke-34.

“Pekan Budaya Dayak 2013 ini sangat mengesankan karena pesta budaya ini merupakan hasil kerjasama, karya bersama, seluruh propinsi di Kalimantan,” kata Wapres Boediono.

Penyelenggaraan Pekan Budaya ini memberikan kesempatan yang sangat baik bagi seluruh warga Indonesia untuk makin memahami, menghargai, menyayangi dan ikut memiliki berbagai segi kebudayaan Dayak.  “Kesempatan seperti ini penting bagi kita semua, terlebih-lebih bagi generasi muda kita, sebab merekalah yang nantinya memegangnya kemudi bahtera bangsa, merekalah masa depan bangsa ini,” kata Wapres.   

Menurutnya, acara seperti Pekan Budaya Dayak sangat disambut semua pihak karena melalui kegiatan seperti ini bangsa Indonesia kembali diingatkan akan keragaman budaya bangsa yang luar biasa  agar makin dapat memahami diri sendiri, menghayati jati diri, identitas sebagai bangsa di tengah-tengah hiruk pikuk globalisasi yang kadangkala membingungkan.

“Memahami diri sendiri, memahami, menghargai dan kemudian menyayangi pernik-pernik mutu manikam yang membentuk untaian "zamrud khatulistiwa” sangat perlu apabila kita ingin menjadi bangsa yang besar, bangsa yang jaya, bangsa yang dapat survive dalam arus perubahan dunia yang deras ini,” kata Wapres.

Pekan Budaya Dayak 2013 juga sekaligus bermaksud untuk memperkenalkan budaya Dayak ke dunia internasional dan lebih kongkrit lagi untuk menarik minat para pelaku ekonomi, baik dari dalam maupun dari luar negeri, untuk berpartisipasi dalam pembangunan Kalimantan. Wapres berharap agar forum budaya seperti ini dapat mempertemukan unsur-unsur produktif ini untuk mencari peluang-peluang baru bagi kerjasama untuk membangun Kalimantan.  

“Kalimantan memiliki berbagai ragam sumber alam yang potensinya luar biasa.  Agar potensi ini menjadi aktual, menjadi kenyataan, perlu dikelola dan dipadukan dengan unsur produktif lain yang diperlukan, yaitu manusia, teknologi dan modal,” kata Wapres.

 Namun Wapres mengingatkan, ada resiko yang harus diwaspadai oleh negara-negara pemilik sumber alam yang melimpah. Sikap mengambil kepentingan jangka pendek harus dihindari. Sumber alam yang berharga harus dimanfaatkan sebagai pemicu untuk meningkatkan nilai tambah yang berkelanjutan.

“Jangan gunakan pendapatan tambahan itu untuk dikonsumsi sekarang, tapi gunakan untuk masa depan, untuk meningkatkan kapasitas produktif daerah, yang nantinya dapat menjadi andalan untuk terus meningkatkan kesejahteraan masyarakat apabila sumber alam itu akhirnya habis.  Jangan pesta sekarang dan menderita nanti,” kata Wapres.

 Wapres menekankan, generasi mendatang mempunyai hak untuk hidup lebih baik dari generasi sekarang.  Untuk mencapai tujuan itu, pendapatan dari sumber alam itu seyogyanya dimanfaatkan untuk sebesar-besarnya membangun dua kapasitas produktif daerah, yaitu kualitas sumberdaya manusianya dan kapasitas infrastruktur.

 Gubernur KalimantanTengah Agustinus Teras Narang yang juga Presiden Majelis Adat Dayak Nasional mengatakan, penyelenggaraan Pekan Budaya Dayak 2013 merupakan sarana promosi dan publikasi akan potensi pariwisata, hasil industri, perdagangan, peluang investasi serta ragam budaya tradisional masyarakat suku Dayak dan diharapkan menjadi pelopor dalam mendukung upaya nation branding pemerintah Indonesia di mata dunia internasional.

 

****




Bookmark and Share