Situs Wapres RI
Situs Wapres RI
10.beritawapres.png, 9,2kB

Tiba di Iran untuk Konferensi Gerakan Non Blok ke-16

Wakil Presiden Menghadiri KTT Gerakan Non Blok ke-16 di Teheran, Iran

Foto

Wakil Presiden Boediono dan Ibu Herawati Boediono tiba di Bandara Internasional Mehrabad, Teheran, Iran.(Foto : Indra)

Teheran. Setelah menempuh 14 jam perjalanan dari Jakarta, Wakil Presiden Boediono tiba di Teheran Rabu 29 Agustus 2012 pukul 8.00 pagi waktu setempat. Kedatangan Wapres yang disertai Ibu Herawati Boediono dan rombongan terbatas guna menghadiri Konferensi Gerakan Non Blok ke-16 yang diselenggarakan pada 26-31 Agustus 2012 di ibukota Iran tersebut.

Kedatangan Wapres di bandara Mehrabad, Teheran itu disambut oleh Menteri Informasi dan Teknologi Taghi Zadeh, Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa dan Ibu Sranya Natalegawa, Duta Besar Iran Dian Wirengjurit dan Ibu Erly Wirengjurit. Pada hari pertama kunjungannya, Wapres Boediono dijadwalkan mengadakan pertemuan dengan delegasi resmi Indonesia dan makan malam serta beramah tamah dengan sekitar 200 masyarakat Indonesia di Wisma Duta kediaman Duta Besar RI di Iran.

Tercatat 120 negara anggota, 17 negara pengamat dan 10 organisasi internasional akan menghadiri konferensi. Di sela-sela pertemuan, Wapres Boediono akan mengadakan pertemuan bilateral dengan sejumlah negara sahabat.

Gerakan Non Blok lahir dari Konferensi Asia Afrika yang diselenggarakan pada 18 April 1955 di Bandung, Jawa Barat. Konferensi yang dilakukan tak lama setelah Perang Dunia ke-II itu mempertemukan 29 negara-negara bekas penjajahan di Asia dan Afrika dalam semangat persatuan dan kebersamaan menyongsong era baru kemerdekaan. Konferensi ini membicarakan sejumlah masalah krusial di antara negara-negara muda tersebut, menumbuhkan embrio persahabatan di antara mereka dan melahirkan Dasa Sila Bandung, yakni semangat persahabatan dan kesetaraan di antara semua negara di dunia yang kemudian dikenal sebagai 10 prinsip dasar hubungan internasional.

Konferensi Asia Afrika ini juga menjadi faktor utama dalam seruan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang bertajuk Deklarasi Pemberian Kemerdekaan bagi Negara-negara Kolonial dan Rakyatnya (United Nations Declaration on the Granting of Independence to Colonial Countries and Peoples) pada 14 Desember 1960. Dalam perjalanannya, seruan ini membuka jalan bagi banyak negara yang masih berada di bawah kolonialisme untuk terbebas dari penjajahan.

Pada 1961, Gerakan Non Blok lahir di Pertemuan Belgrade, sebagai upaya menciptakan kubu netral di antara dua raksasa dunia kala itu, Amerika Serikat dan Uni Soviet, yang bersiteru pasca Perang Dunia ke-II dalam apa yang kemudian disebut sebagai Perang Dingin. Lima tokoh besar pendiri Gerakan Non Blok adalah Presiden pertama Yugoslavia Josip Broz Tito; Perdana Menteri India yang pertama Jawaharlal Nehru; Presiden kedua Mesir Gamal Abdel Nasser, Presiden pertama Ghana Kwame Nkrumah dan Presiden pertama Indonesia, Sukarno.

Di tahun 1964, 77 negara berkembang yang menjadi bagian dari Gerakan Non Blok membentuk G-77, atau perkumpulan antar negara terbesar, di dalam Perserikatan Bangsa-Bangsa. Pada perkembangannya kelompok ini juga membangun kerjasama Selatan-Selatan demi memusatkan prioritas pada kerjasama ekonomi internasional dan pembangunan. Anggota G-77 ini sudah berkembang menjadi 131 negara anggota.

****




Bookmark and Share